Bumi, Matahari, Kau, dan Aku
Hitam. Kelam. Gelap. Sepi. Bumi nampaknya semakin kacau. Entah itu karena bumi ditinggalkan oleh mataharinya, atau karena kau yang pergi. Lalu pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, sepercik cahaya seperti matahari muncul. Tak terang sepertinya memang. Tapi cukup tuk buat bumi kembali bersinar, walau sementara. Perkenalkan, dia..... bulan
Semenjak bulan datang, bumi terlihat kembali seperti semula. Tapi, bumi tetap terlihat beda. Mungkin benar kata orang, sesuatu jika ditinggalkan, lalu kembali, pastinya tak akan sama lagi. begitupun bumi. Ada satu hal yang mengganjal. Dia tetap bersinar, tapi wajahnya murung (lebih terkesan seperti memaksakan senyuman).
Mantra apa yang matahari berikan kepada bumi? Mengapa efeknya bertahan lama hingga sekarang? Apa kau juga belajar mantra itu dari matahari? Tidak cukupkah kepergiannya membuat bumi menangis? Menitikkan tetes-tetes air ke permukaannya. Dari semua problema ini, yang kutahu, memang sudah takdirnya bumi dan matahari bersama. Tapi tidak dengan kau dan aku.
\
Tinggimoncong, 25 Maret 2017
Your lover
Ditulis saat sedang jenuh-jenuhnya mempersiapkan berbagai tes di masa putih abu-abu
Semenjak bulan datang, bumi terlihat kembali seperti semula. Tapi, bumi tetap terlihat beda. Mungkin benar kata orang, sesuatu jika ditinggalkan, lalu kembali, pastinya tak akan sama lagi. begitupun bumi. Ada satu hal yang mengganjal. Dia tetap bersinar, tapi wajahnya murung (lebih terkesan seperti memaksakan senyuman).
Mantra apa yang matahari berikan kepada bumi? Mengapa efeknya bertahan lama hingga sekarang? Apa kau juga belajar mantra itu dari matahari? Tidak cukupkah kepergiannya membuat bumi menangis? Menitikkan tetes-tetes air ke permukaannya. Dari semua problema ini, yang kutahu, memang sudah takdirnya bumi dan matahari bersama. Tapi tidak dengan kau dan aku.
\
Tinggimoncong, 25 Maret 2017
Your lover
Ditulis saat sedang jenuh-jenuhnya mempersiapkan berbagai tes di masa putih abu-abu
Komentar
Posting Komentar