Postingan

Tentang Perasaan yang Tak Terbalas

Langit kembali mendung Seakan mengerti perasaanku yang terbendung Entah sampai kapan aku harus menahannya Langit saja telah menjatuhkan tetes-tetes airnya Kukira ini hanya ketertarikan sesaat Tapi mengapa aku terluka begitu hebat Kukira kau dan aku sudah sangat dekat Nyatanya hatiku saja yang terikat Aku terjebak didalammu Tak tahu kemana harus menuju Kau pun sudah memberi kunci tuk keluar darimu Hanya saja aku belum mau Apa artinya aku untukmu? Apakah hanya sebatas penghilang pilu? Lalu, tak kau pikirkah perasaanku? Mendengar kau bercerita tentangnya selalu Aku selalu ada untukmu disini Tak pernah enggan untuk beranjak pergi Sayangnya kau tak pernah menganggap diri ini Lebih dari pendengar curhatan hati, tentang kekasih Tahukah kau sang pujangga hati? Melihatmu dengan dirinya kembali, Rasanya seperti tertusuk pisau belati Dan aku pun tak tahu harus apa lagi Hanya bisa berserah diri Sembari kembali menikmati sepi, sendiri ...

Balasan dari Malam

Tak perlu menanyakan kehadiranku Tak perlu menanyakan kesetiaanku Sebab aku tidak sempurna untukmu Karena itu matahari menggantikanku Walau jangkrik tak lagi berbunyi Walau rumput terlihat lemah lunglai Aku tetap disini Menanti hingga datang kembali Jangan katakan bodoh pada dirimu Jika kau mulai lelah, beristirahatlah dulu Pejamkan matamu dan mimpikan aku Yang mungkin bisa menjadi pengganjal rindu Apakah aku terlihat ceria? Artinya aku berhasil bersandiwara Tak sedetik pun aku lupa akan surya Aku hanya berusaha terlihat sempurna Untuk apa memintaku berbalik? Jika itu hanya menyakiti hati Relakan aku jika nantinya harus pergi Dan ku janji kau tuk datang kembali, tinggal lebih lama lagi Makassar, 22 April 2017 ditulis untuk membalas puisi Malam, walau tau bahwa dirinya bukanlah orang yang dituju. Your lover

Malam (Bagian ke-2)

Hai malam, dimana dirimu sekarang Akankah kau memikirkanku Karena hari mulai terang sekarang Mentari mulai menyinariku Hai malam, dimana dirimu sekarang? Akankah aku bodoh menunggu Karena jangkrik pun mulai menghilang Rumput pun mulai bergoyang sayu Hai malam, kurasa aku sudah bodoh Karena berharap hingga tergopoh Bahkan badan mulai roboh Mengharap gelap datang dengan ceroboh Hai malam, mengapa kau begitu ceria? Menyelimuti bumi dengan bangga Hingga lupa akan surya Yang mustahil akan berjumpa Hai malam, cobalah berbalik badan Walau ingatan hanya tinggal kenangan Dan setiap cahaya menyisakan bayangan Tinggimoncong, April 2017 (juga) ditulis oleh seseorang yang katanya tak pandai meciptakan puisi